Seekor kucing berhasil melahirkan anaknya, meski kucing kecil mengalami cacat. Anak kucing manis ini ternyata memiliki dua wajah dan luar biasanya kedua muka ini dapat mengeluarkan bunyi "meong" pada saat yang sama meski yang dapat digunakan makan hanya satu.
Para dokter hewan di Perth, Australia lah yang berjasa menyelamatkan kucing kecil ini setelah induknya mengalami komplikasi saat melahirkannya.
"Saya pernah melihat kucing-kucing dengan ekor dua dan kaki yang besar-besar, tetapi yang ini belum pernah," kata salah satu dokter hewan.
Kucing ini belum diberi nama. Namun pemiliknya dilaporkan sedang memikirkan untuk memanggilnya Quasi Modo (nama tokoh yg cacat fisik dan buruk rupa dalam roman klasik karya Victor Hugo, Notre Dame de Paris 1831). Dokter hewan yang berhasil membantu kelahiran kucing kecil ini, menyebutkan bahwa kucing ini bakal dapat bertahan hidup.
"Meski pembedahan penuh terjadi di perut, kucing ini bisa bertahan semalaman. Ini pertanda baik. Artinya dia bakal bermeong ria dan mendengkur nyenyak dalam tidurnya."
Anak kucing ini hanya bisa makan dengan satu mulut karena langit-langit mulutnya mengalami pembelahan. Anehnya, kedua mulut ini bisa mengeluarkan bunyi 'meong' secara simultan.
Sumber
- Kompas
Showing posts with label australia. Show all posts
Showing posts with label australia. Show all posts
Thursday, November 20, 2008
Thursday, October 30, 2008
Cacing Tanah Raksasa
Sering melihat cacing tanah? waktu kecil saya gemar mencari binatang ini di bawah pohon pisang . Biasanya digunakan untuk umpan memancing di kali atau rawa-rawa. Tetapi kalau melihat cacing dengan panjang hampir 2 meter berdiamater 2 cm (sebesar jempol tangan), maka anda bisa melihatnya di Australia Selatan, daerah Gippsland.Dan cacingzilla yang nama resminya adalah Megacolides australia ini di lindungi. Apalagi ia mudah stress bila mendengar suara berisik.

Ceritanya sebuah perusahaan gas berbendera Karoon Gas Pty berniat mengebor batu-bara. Berbeda dengan di tanah air, batu bara biasanya ditambang, lalu bongkahan oleh para pemecah penjual batu lantas diperjual belikan untuk penggerak kereta api (jaman dulu), atau mesin diesel. Sedangkan di Australia lapisan batubara CSM “Coal Seam Methane” di bor dan lapisan yang mengandung gas metana nya dihirup mesin untuk dijual ke perusahaan listrik, tanur besi dan industri lainnya.
Rig Pengeboran yang dipakai sama dengan rig pengeboran darat.Lokasi pengeboran dipilih pada sebuah daerah peternakan sapi unggulan yang mungkin salah satunya didirikan oleh Bulog Wijanarko yang tertanduk menjadi tersangka. Karena lokasi ini semula tempat mengumbar sapi dipadang rumput luas, maka kombinasi antara hawa bersih, bebas polusi dan kotoran sapi, rumput di kawasan ini tumbuh subur (dan dipanen untuk musim kering kelak). Yang lebih penting cacing tanah raksasa gemar beranak pinak disana.
Biasanya di Republik Hantu karena banyaknya tayangan filem horror, kalau sudah urusan pembebasan tanah maka reseh seperti hidup berdampingan. Di Australia, kontrak ganti rugi dipajang didinding camp pengeboran. Semua serba transparan.
Tetapi pihak paling reseh biasanya departemen purbakala, dan lingkungan hidup. Mereka harus memastikan saat tanah mulai diperkeras untuk operasi pengeboran maka tak seekorpun cacingpun tewas. Caranya cacing di evakuasi ketempat lain dengan memukuli tanah. Tetapi pada prakteknya titik pengeboran yang dievakuasi ke tempat bebas cacing!.
Sementara pihak purbakala selalu mengawasi jangan sampai situs kuno bekas pemujaan suku Aborijin dirusak. Orang Aborijin gemar melukis pada batu-batu besar, dan benda purbakala ini kalau tidak diawasi bisa-bisa didinamit oleh para pekerja yang kejar target.
Disekitar lokasi yang akan dijadikan titik pengeboran sumur gas batubara (CSM), berdiri seorang ahli biologi. Namanya Van Praagh.
Van Praagh mula mula berdiri ditengah-tengah padang rumput yang sedang hijau-hijaunya, persis filem dimana Laura Ingels berlari ditengah padang “prairie” - cuma kali ini latar belakangnya padang rumput (hay)disebuah kawasan Victoria -Australia yang bernama Gippsland.
Ditangan kirinya “entah kenapa bule rata-rata bertangan kidal” tergenggam sebuah sekop. Sesekali ia memukulkan bagian belakang sekop ke tanah seperti layaknya seseorang memukul kepala kobra yang hendak menyerangnya. Puas memukuli bumi seperti orang kesurupan (tapi bukan), ia mengambil sikap tiarap sambil mengeluarkan senjata andalan satu lagi, sebuah stetoskop. Sambil tertelungkup di tanah ia merangkak kesana kemari sembari mencoba mendengarkan suara seperti kaki terperangkap lumpur sawah “sroot” melalui stetoskopnya.
Kali ini gayanya seperti Indian sedang mendeteksi jejak langkah pasukan berkuda pihak lawan.Lelaki dengan kelakuan “aneh” ini bukan sembarangan, ia adalah ahli Invertebrata yang tugasnya mendeteksi keberadaan jenis cacing tanah terpanjang didunia menurut Guiness Book, yang dikenal sebagai Megascolides australi, yang hanya terdapat dilembah-lembah kawasan Gippsland di Victoria. Cacing ini jarang menyembul kepermukaan, hidupnya sekitar 1 meter dibawah tanah gembur.
Sekop dipukulkan agar timbul suara menggetkan bagi cacing yang konon ukurannya sebesar jempol dan panjangnya bisa mencapai dua meter membuatnya kaget lalu bersembunyi kedalam liangnya. Bunyi cacing masuk liang katanya persis kalau kita menyedot bakmi GM, “mak-sluprut”. Dan Beverley Van Praagh menyebutnya sebagai suara “gurgle” dari jenis Megascolides australia atau nama umumnya Giant Gippsland Earthworm.
Bilamana lokasi yang diselidikinya ternyata menjadi ruang arisan para cacing raksasa, maka mau tidak mau, lokasi titik pemboran harus diubah. Sebab pemerintah Australia sangat ketat dengan penjagaan keseimbangan alam. Untunglah saat pengerasan kawasan lokasi “pad” dilakukan, bekas garukan buldoser tidak menunjukkan bekas liang, apalagi cacing yang terbunuh. Kemungkinan besar meraka sudah melakukan swa-evakuasi jauh-jauh hari.
Hanya saja, Beverly Van Praagh berpesan, satu-satunya kerusakan yang ditimbulkan oleh adanya pengeboran adalah perubahan Hydrologi habitat.
Rig pengeboran perlu air untuk mencuci, membuat adonan lumpur yang umumnya diambil dari parit irigasi terdekat. Padahal, cacing paling doyan ngerumpi disekitar parit tersebut. Lalu ia merekomendasikan agar menggunakan air telaga yang memang banyak terdapat disana. Sementara untuk keperluan air minum didatangkan dari kota dalam tangki-tangki air.
Limbah pengeboran ditampung pada beberapa kolam tanah “ground pit” tempat pembuangan tahi bor. Untuk mencegah cairan limbah tidak meresap kedalam air tanah, kolam dilapisi terpal plastik. Dua hari sekali mobil sedot tinja datang untuk menyedot tinja pemboran yang sudah dicampur bahan kimia seperti asam nitrat untuk menetralisir bau dan bakteri sebelum dibawa ketempat penampungan untuk diproses lebih lanjut.
Sumber
- Alcapone
Ceritanya sebuah perusahaan gas berbendera Karoon Gas Pty berniat mengebor batu-bara. Berbeda dengan di tanah air, batu bara biasanya ditambang, lalu bongkahan oleh para pemecah penjual batu lantas diperjual belikan untuk penggerak kereta api (jaman dulu), atau mesin diesel. Sedangkan di Australia lapisan batubara CSM “Coal Seam Methane” di bor dan lapisan yang mengandung gas metana nya dihirup mesin untuk dijual ke perusahaan listrik, tanur besi dan industri lainnya.
Rig Pengeboran yang dipakai sama dengan rig pengeboran darat.Lokasi pengeboran dipilih pada sebuah daerah peternakan sapi unggulan yang mungkin salah satunya didirikan oleh Bulog Wijanarko yang tertanduk menjadi tersangka. Karena lokasi ini semula tempat mengumbar sapi dipadang rumput luas, maka kombinasi antara hawa bersih, bebas polusi dan kotoran sapi, rumput di kawasan ini tumbuh subur (dan dipanen untuk musim kering kelak). Yang lebih penting cacing tanah raksasa gemar beranak pinak disana.
Biasanya di Republik Hantu karena banyaknya tayangan filem horror, kalau sudah urusan pembebasan tanah maka reseh seperti hidup berdampingan. Di Australia, kontrak ganti rugi dipajang didinding camp pengeboran. Semua serba transparan.
Tetapi pihak paling reseh biasanya departemen purbakala, dan lingkungan hidup. Mereka harus memastikan saat tanah mulai diperkeras untuk operasi pengeboran maka tak seekorpun cacingpun tewas. Caranya cacing di evakuasi ketempat lain dengan memukuli tanah. Tetapi pada prakteknya titik pengeboran yang dievakuasi ke tempat bebas cacing!.
Sementara pihak purbakala selalu mengawasi jangan sampai situs kuno bekas pemujaan suku Aborijin dirusak. Orang Aborijin gemar melukis pada batu-batu besar, dan benda purbakala ini kalau tidak diawasi bisa-bisa didinamit oleh para pekerja yang kejar target.
Disekitar lokasi yang akan dijadikan titik pengeboran sumur gas batubara (CSM), berdiri seorang ahli biologi. Namanya Van Praagh.
Van Praagh mula mula berdiri ditengah-tengah padang rumput yang sedang hijau-hijaunya, persis filem dimana Laura Ingels berlari ditengah padang “prairie” - cuma kali ini latar belakangnya padang rumput (hay)disebuah kawasan Victoria -Australia yang bernama Gippsland.
Ditangan kirinya “entah kenapa bule rata-rata bertangan kidal” tergenggam sebuah sekop. Sesekali ia memukulkan bagian belakang sekop ke tanah seperti layaknya seseorang memukul kepala kobra yang hendak menyerangnya. Puas memukuli bumi seperti orang kesurupan (tapi bukan), ia mengambil sikap tiarap sambil mengeluarkan senjata andalan satu lagi, sebuah stetoskop. Sambil tertelungkup di tanah ia merangkak kesana kemari sembari mencoba mendengarkan suara seperti kaki terperangkap lumpur sawah “sroot” melalui stetoskopnya.
Kali ini gayanya seperti Indian sedang mendeteksi jejak langkah pasukan berkuda pihak lawan.Lelaki dengan kelakuan “aneh” ini bukan sembarangan, ia adalah ahli Invertebrata yang tugasnya mendeteksi keberadaan jenis cacing tanah terpanjang didunia menurut Guiness Book, yang dikenal sebagai Megascolides australi, yang hanya terdapat dilembah-lembah kawasan Gippsland di Victoria. Cacing ini jarang menyembul kepermukaan, hidupnya sekitar 1 meter dibawah tanah gembur.
Sekop dipukulkan agar timbul suara menggetkan bagi cacing yang konon ukurannya sebesar jempol dan panjangnya bisa mencapai dua meter membuatnya kaget lalu bersembunyi kedalam liangnya. Bunyi cacing masuk liang katanya persis kalau kita menyedot bakmi GM, “mak-sluprut”. Dan Beverley Van Praagh menyebutnya sebagai suara “gurgle” dari jenis Megascolides australia atau nama umumnya Giant Gippsland Earthworm.
Bilamana lokasi yang diselidikinya ternyata menjadi ruang arisan para cacing raksasa, maka mau tidak mau, lokasi titik pemboran harus diubah. Sebab pemerintah Australia sangat ketat dengan penjagaan keseimbangan alam. Untunglah saat pengerasan kawasan lokasi “pad” dilakukan, bekas garukan buldoser tidak menunjukkan bekas liang, apalagi cacing yang terbunuh. Kemungkinan besar meraka sudah melakukan swa-evakuasi jauh-jauh hari.
Hanya saja, Beverly Van Praagh berpesan, satu-satunya kerusakan yang ditimbulkan oleh adanya pengeboran adalah perubahan Hydrologi habitat.
Rig pengeboran perlu air untuk mencuci, membuat adonan lumpur yang umumnya diambil dari parit irigasi terdekat. Padahal, cacing paling doyan ngerumpi disekitar parit tersebut. Lalu ia merekomendasikan agar menggunakan air telaga yang memang banyak terdapat disana. Sementara untuk keperluan air minum didatangkan dari kota dalam tangki-tangki air.
Limbah pengeboran ditampung pada beberapa kolam tanah “ground pit” tempat pembuangan tahi bor. Untuk mencegah cairan limbah tidak meresap kedalam air tanah, kolam dilapisi terpal plastik. Dua hari sekali mobil sedot tinja datang untuk menyedot tinja pemboran yang sudah dicampur bahan kimia seperti asam nitrat untuk menetralisir bau dan bakteri sebelum dibawa ketempat penampungan untuk diproses lebih lanjut.
Sumber
- Alcapone
Gara-gara Makan Kodok, ada Cacing di Otak
Bagi yang suka makan daging kodok (swike), saatnya sekarang ditinggalkan. Kisah ini terjadi pada seseorang yang berinisial C di Cirebon, ada cacing di dalam otaknya gara-gara makan daging kodok.
Si C ini awalnya hanya sakit kepala sebelah seperti migran, tetapi di otaknya seperti ada yang ‘gremet-gramet’. Lama kelamaan sakitnya tambah menjurus ke seperti vertigo. Setelah diperiksakan ke dokter di Cirebon dan Jakarta tidak ditemukan adanya penyakit.
Karena penasaran akhirnya si C berobat ke Singapura. Setelah diperiksa dengan alat yang canggih di sana diindikasikan ada binatang hidup di otaknya. Dan harus dioperasi besar. Setelah dioperasi ditemukan sejenis cacing super kecil berwarna putih.
Selesai operasi, si C telah istirahat dua hari dan telah sadar, sang dokter berkata, "Maaf ibu, penyakit ibu belum sembuh total, Karena di otak ibu diperkirakan masih ada telur-telur cacing tersebut. Yang jika telur tersebut menetas akan menjadi cacing. Dan siklus tersebut terus berlanjut.”
Si C bertanya ke dokter penyebab dari penyakitnya tersebut, kenapa bisa ada cacing di otaknya.
Dokter memberikan penjelasan, bahwa di indikasikan cacing tersebut berasal dari daging kodok yang sering ibu makan (karena ibu tersebut memang suka makan daging kodok). Karena cacing tersebut tidak mati jika dimasak 100 derajat atau di bawah 0 derajat.
BM Advante juga memberikan keterangan, bahwa si C pernah memasak daging kodok pada pagi hari. Dikarenakan tidak habis (mungkin masaknya agak banyak), maka disimpan di kulkas.
Dan sorenya di hangatkan lagi lalu dimakan. Di karenakan masih ada yang belum semuanya habis, maka disimpan kembali di kulkas.
Besok paginya setelah mau dihangatkan, si C ini terkejut karena dari daging kodok tersebut keluar cacing putih kecil-kecil tersebut.
Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Australia sudah melarang rakyatnya untuk mengkonsumsi daging kodok karena terbukti cacing-cacing tersebut tidak akan mati walaupun dimasak dengan suhu tinggi sekalipun.
Sumber
- Inilah.com
Si C ini awalnya hanya sakit kepala sebelah seperti migran, tetapi di otaknya seperti ada yang ‘gremet-gramet’. Lama kelamaan sakitnya tambah menjurus ke seperti vertigo. Setelah diperiksakan ke dokter di Cirebon dan Jakarta tidak ditemukan adanya penyakit.
Karena penasaran akhirnya si C berobat ke Singapura. Setelah diperiksa dengan alat yang canggih di sana diindikasikan ada binatang hidup di otaknya. Dan harus dioperasi besar. Setelah dioperasi ditemukan sejenis cacing super kecil berwarna putih.
Selesai operasi, si C telah istirahat dua hari dan telah sadar, sang dokter berkata, "Maaf ibu, penyakit ibu belum sembuh total, Karena di otak ibu diperkirakan masih ada telur-telur cacing tersebut. Yang jika telur tersebut menetas akan menjadi cacing. Dan siklus tersebut terus berlanjut.”
Si C bertanya ke dokter penyebab dari penyakitnya tersebut, kenapa bisa ada cacing di otaknya.
Dokter memberikan penjelasan, bahwa di indikasikan cacing tersebut berasal dari daging kodok yang sering ibu makan (karena ibu tersebut memang suka makan daging kodok). Karena cacing tersebut tidak mati jika dimasak 100 derajat atau di bawah 0 derajat.
BM Advante juga memberikan keterangan, bahwa si C pernah memasak daging kodok pada pagi hari. Dikarenakan tidak habis (mungkin masaknya agak banyak), maka disimpan di kulkas.
Dan sorenya di hangatkan lagi lalu dimakan. Di karenakan masih ada yang belum semuanya habis, maka disimpan kembali di kulkas.
Besok paginya setelah mau dihangatkan, si C ini terkejut karena dari daging kodok tersebut keluar cacing putih kecil-kecil tersebut.
Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Australia sudah melarang rakyatnya untuk mengkonsumsi daging kodok karena terbukti cacing-cacing tersebut tidak akan mati walaupun dimasak dengan suhu tinggi sekalipun.
Sumber
- Inilah.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
