Thursday, October 30, 2008

Cacing Tanah Raksasa

Sering melihat cacing tanah? waktu kecil saya gemar mencari binatang ini di bawah pohon pisang . Biasanya digunakan untuk umpan memancing di kali atau rawa-rawa. Tetapi kalau melihat cacing dengan panjang hampir 2 meter berdiamater 2 cm (sebesar jempol tangan), maka anda bisa melihatnya di Australia Selatan, daerah Gippsland.Dan cacingzilla yang nama resminya adalah Megacolides australia ini di lindungi. Apalagi ia mudah stress bila mendengar suara berisik.


Ceritanya sebuah perusahaan gas berbendera Karoon Gas Pty berniat mengebor batu-bara. Berbeda dengan di tanah air, batu bara biasanya ditambang, lalu bongkahan oleh para pemecah penjual batu lantas diperjual belikan untuk penggerak kereta api (jaman dulu), atau mesin diesel. Sedangkan di Australia lapisan batubara CSM “Coal Seam Methane” di bor dan lapisan yang mengandung gas metana nya dihirup mesin untuk dijual ke perusahaan listrik, tanur besi dan industri lainnya.

Rig Pengeboran yang dipakai sama dengan rig pengeboran darat.Lokasi pengeboran dipilih pada sebuah daerah peternakan sapi unggulan yang mungkin salah satunya didirikan oleh Bulog Wijanarko yang tertanduk menjadi tersangka. Karena lokasi ini semula tempat mengumbar sapi dipadang rumput luas, maka kombinasi antara hawa bersih, bebas polusi dan kotoran sapi, rumput di kawasan ini tumbuh subur (dan dipanen untuk musim kering kelak). Yang lebih penting cacing tanah raksasa gemar beranak pinak disana.

Biasanya di Republik Hantu karena banyaknya tayangan filem horror, kalau sudah urusan pembebasan tanah maka reseh seperti hidup berdampingan. Di Australia, kontrak ganti rugi dipajang didinding camp pengeboran. Semua serba transparan.

Tetapi pihak paling reseh biasanya departemen purbakala, dan lingkungan hidup. Mereka harus memastikan saat tanah mulai diperkeras untuk operasi pengeboran maka tak seekorpun cacingpun tewas. Caranya cacing di evakuasi ketempat lain dengan memukuli tanah. Tetapi pada prakteknya titik pengeboran yang dievakuasi ke tempat bebas cacing!.

Sementara pihak purbakala selalu mengawasi jangan sampai situs kuno bekas pemujaan suku Aborijin dirusak. Orang Aborijin gemar melukis pada batu-batu besar, dan benda purbakala ini kalau tidak diawasi bisa-bisa didinamit oleh para pekerja yang kejar target.

Disekitar lokasi yang akan dijadikan titik pengeboran sumur gas batubara (CSM), berdiri seorang ahli biologi. Namanya Van Praagh.

Van Praagh mula mula berdiri ditengah-tengah padang rumput yang sedang hijau-hijaunya, persis filem dimana Laura Ingels berlari ditengah padang “prairie” - cuma kali ini latar belakangnya padang rumput (hay)disebuah kawasan Victoria -Australia yang bernama Gippsland.

Ditangan kirinya “entah kenapa bule rata-rata bertangan kidal” tergenggam sebuah sekop. Sesekali ia memukulkan bagian belakang sekop ke tanah seperti layaknya seseorang memukul kepala kobra yang hendak menyerangnya. Puas memukuli bumi seperti orang kesurupan (tapi bukan), ia mengambil sikap tiarap sambil mengeluarkan senjata andalan satu lagi, sebuah stetoskop. Sambil tertelungkup di tanah ia merangkak kesana kemari sembari mencoba mendengarkan suara seperti kaki terperangkap lumpur sawah “sroot” melalui stetoskopnya.

Kali ini gayanya seperti Indian sedang mendeteksi jejak langkah pasukan berkuda pihak lawan.Lelaki dengan kelakuan “aneh” ini bukan sembarangan, ia adalah ahli Invertebrata yang tugasnya mendeteksi keberadaan jenis cacing tanah terpanjang didunia menurut Guiness Book, yang dikenal sebagai Megascolides australi, yang hanya terdapat dilembah-lembah kawasan Gippsland di Victoria. Cacing ini jarang menyembul kepermukaan, hidupnya sekitar 1 meter dibawah tanah gembur.

Sekop dipukulkan agar timbul suara menggetkan bagi cacing yang konon ukurannya sebesar jempol dan panjangnya bisa mencapai dua meter membuatnya kaget lalu bersembunyi kedalam liangnya. Bunyi cacing masuk liang katanya persis kalau kita menyedot bakmi GM, “mak-sluprut”. Dan Beverley Van Praagh menyebutnya sebagai suara “gurgle” dari jenis Megascolides australia atau nama umumnya Giant Gippsland Earthworm.

Bilamana lokasi yang diselidikinya ternyata menjadi ruang arisan para cacing raksasa, maka mau tidak mau, lokasi titik pemboran harus diubah. Sebab pemerintah Australia sangat ketat dengan penjagaan keseimbangan alam. Untunglah saat pengerasan kawasan lokasi “pad” dilakukan, bekas garukan buldoser tidak menunjukkan bekas liang, apalagi cacing yang terbunuh. Kemungkinan besar meraka sudah melakukan swa-evakuasi jauh-jauh hari.

Hanya saja, Beverly Van Praagh berpesan, satu-satunya kerusakan yang ditimbulkan oleh adanya pengeboran adalah perubahan Hydrologi habitat.

Rig pengeboran perlu air untuk mencuci, membuat adonan lumpur yang umumnya diambil dari parit irigasi terdekat. Padahal, cacing paling doyan ngerumpi disekitar parit tersebut. Lalu ia merekomendasikan agar menggunakan air telaga yang memang banyak terdapat disana. Sementara untuk keperluan air minum didatangkan dari kota dalam tangki-tangki air.

Limbah pengeboran ditampung pada beberapa kolam tanah “ground pit” tempat pembuangan tahi bor. Untuk mencegah cairan limbah tidak meresap kedalam air tanah, kolam dilapisi terpal plastik. Dua hari sekali mobil sedot tinja datang untuk menyedot tinja pemboran yang sudah dicampur bahan kimia seperti asam nitrat untuk menetralisir bau dan bakteri sebelum dibawa ketempat penampungan untuk diproses lebih lanjut.

Sumber
- Alcapone

1 comment:

febri said...

Jual cacing tanah (rubellus lumbricus) harga Rp 25.000/kg kapasitas 100 kg/minggu, melayani eceran dan partai
Jual jangkrik harga Rp 45.000/kg kapasitas100 kg/minggu, melayani eceran dan partai

Pemilik : Sudjatmiko
Phone : 081586297454
E-mail : jatindra_farm@yahoo.com
Lokasi Farm : Jl. Merdeka no.18, LK.10, RT.03, RW.02, Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur
website: http://jatindra.awardspace.com